Trofeo Futsal Internal IBBatam ke-III (TFI3) selesai terlaksana dengan tak damai. Mengusung kosep baru melahirkan jawara-jawara
tak terduga, katanya. Sebut saja lord Hafiz yang bermodalkan skill pas-pasan bisa meraih predikat Top Skor dari sebiji gol
ghaib ke gawang Mingueza yang dijaga Lamhot. Atau tim Pedri yang secara
statistik hanya mampu mencetak 2 gol namun bisa mengangkat piala Juara? Mengapa
demikian? Berikut ceritanya.
***
19.30 WIB
Molor dari waktu yang direncanakan,
pengundian tim dan jadwal pertandingan masih belum selesai. Very dkk sebagai
panitia masih sibuk mempersiapkan segala keperluan kegiatan, “Wul,
tolong turun ke parkiran bantu angkat air minum dan bendera ya”, setengah
lelah meminta Awul untuk ke sana. Crew lain Tara-Hafiz mengutip HTM ke peserta,
Fadil-Benn memulai pengundian, Deni-Edwar izin tak bisa datang, Ramanda jangan ditanya, dan pak Hadi-Valdo stanby meniup peluit Kick Off babak pertama. Ya, pak Hadi dan Valdo
adalah wasit dari Sawahlunto yang akan memimpin semua pertandingan hari ini.
TFI3 merupakan ajang balas dendam
korban psywar di grup WhatsApp dan relawan
sisa perang di TFI1 dan 2 yang belum terlampiaskan. Kompetisi ini khusus
untuk member IBBatam yang aktif maupun tidak, “asal bayar semua lancar!” begitu
kata ketua acara, Very. Dengan berkali-kali permohonan maaf, akhirnya panitia
bisa mengunci peserta sebanyak 42 orang. Ini diluar dari perkiraan dan
persiapan yang telah mereka lakukan, jika tak ditahan mungkin saja 1 kota Batam
ingin ikut terlibat. Very dan Tara memutar otak mencari solusi terbaik,
bagaimana caranya memainkan 42 orang dalam 1 turnamen futsal yang harus selesai
dalam 2 jam, tak lebih. Eh Tara, iya Tara, dia juga menjadi ketua di acara ini,
namun karena semangat kompetisi yg kuat, Very coba mengakuisisi sendiri.
“Coba aja kau buat 2 set kompetisi
dalam 1 kegiatan, ada penyisihan, ada liganya, dan ada partai puncaknya”,
sepuh Ramanda memberi solusi dari Papua. Tak ada yg protes, semua diam setuju.
Kebetulan sekali sarannya agak waras, biasanya jarang komen yang sopan, doyannya
gosipin kawan-kawan lain di grup pengurus, terutama tentang Hendro yg biasa
dipanggil Ndoro, entah kenapa nampaknya dia kurang suka, oops!
Pucuk dicinta, ularpun tiba, kegiatan
mulai disiapkan sesuai ajaran sepuh Ramanda dengan ketentuan sebagai berikut:
- Terdiri dari 6 tim x 7 pemain. 1 GK dan 6 player.
- Masing-masing tim diadu di babak penyisihan: A vs B, C vs D, E vs F
- 3 tim yg menang lolos ke semifinal. 3 tim yg kalah akan saling bertanding untuk 1 tiket ke semifinal dengan sistem point/liga.
- 4 tim akan berlaga di semifinal dalam sket: A vs B, C vs D
- 2 tim kalah di semifinal akan beradu untuk posisi 3. dan 2 tim yg menang akan bertanding di Final.
- Waktu per match lebih kurang 10 menit. Draw = Pinalty Kick.
- Penilaian Top Skor, Best GK, dan Best Player dimulai sejak Semifinal.
- Keputusan Wasit dan Juri Mutlak, tidak bisa diganggu-gugat kecuali anda Crazy Rich Batam
Menjelang hari-H, segala atribut acara
telah disiapkan. Medali, piala, pocari,
bendera, rompi, peluit, sampai ke kertas undian bertumpuk di rumah Deni
dan siap dibawa ke Akutahu centre. Rumah Deni sampai waktu yang tidak ditentukan
memang menjadi sekretariat sementara IBBatam.
***
20.25 WIB
Penyisihan
“Priiiiiiiit!”, peluit sumbang pak
Hadi menandakan Kick Off pertama dimulai.
Tim Torres yang diisi Fadil (GK), Yudi (always beban),
Rafi, Dea, Ikbal old, Lutfi, dan Ikbal Jr bertemu dengan tim Mingueza yg
dimotori oleh Lamhot (GK), Ardoni, Arif, Jefri, Ucil, Surya, dan Dedi.
Pertandingan sempat berjalan sengit, saling tekel dan serang, sampai Ikbal Jr membuka kran gol pertama untuk tim
Torres, namun menjelang akhir laga dibalas bertubi-tubi oleh Dedi (2 gol) dan
Surya. Mingueza lolos ke semifinal dengan skor 1-3, sungguh sangat cepat.
Lanjut match
ke2, tim Depay dengan punggawa Alex (GK), Siran, Prio,
Andreyoga, Farhan, Tanaka, dan Arvan (ex
Best Player TFI1) beradu akting
dengan tim Garcia yang diperkuat Aul (GK sekaligus kakak
kandung Alex, 1 KK tentu saja), Dhewa, Dhino (ex Best GK TFI1), Taufik, Andre, Dedi Manullang, dan Vitno Adrian (ex Top Skor TFI 1 & 2). sejak awal Garcia tampil dominan, 2 gol tanpa balas
mengantar Depay ke jurang perbullyan. Tentu 2 gol tersebut
dicetak oleh Vitno Adrian, tak mungkin Dhewa apalagi Dhinno.
Laga panas terakhir dibabak penyisihan
mempertemukan 2 tim tak kalah baik, tim Pedri terdiri
dari Ryan GK (GK Timnas IB), King Bagus (ex Juara TFI1), Hiron (ex Juara TFI2), Ryan Messi, Lord Hafiz,
Gurning, dan Rice (Gelandang pengangkut minyak Timnas IB) versus tim Gavi beranggotakan
Awem (GK), Vindo (Bos besar kita semua), Eko (kuc sekaligus PG terbaik IB),
Reza, Alan, Dayat, dan salah 1 Kapten Timnas IB: Syahrul, yang pernah mengangkat trophy UCL di depan warga Bengkong. Permainan saling hantam dan
serang menyajikan pemandangan ciamik, cara kerja siku Lord Hafiz yang
tidak normal beberapa kali membuat wasit Valdo memberikan kartu bayangan.
Kedua GK tampil prima, namun di menit-menit akhir Ryan Messi dengan segala
kelincahannya berhasil mencatatkan nama di papan skor sekaligus merebut 1
tiket ke semifinal. 1-0 untuk kemenangan Pedri.
Babak penyisihan
selesai, ATC makin ramai, entah kebetulan di luar lagi ada pameran diskon
pecah-belah besar-besaran atau tidak, kami tidak tau. Penonton TFI3 makin
penasaran, tim-tim andalan mereka tampil di luar dugaan. Tim Depay yang
dipenuhi pemain bintang, ada ex Best Player TFI1 (Arvan) juga, harus gigit jari masuk ke babak Call Back. Gavi yang
diperkuat Duo Serigala (dijamannya) Eko dan Vindo telah menjadi Duo Kucing Anggora (saat ini) tak bisa berbuat banyak, harus lebih keras tidak memainkan mereka untuk mendapatkan hasil maksimal di babak berikutnya.
Dan tim Torres, hmm..., karena ada Yudi, memang sudah diprediksi bakal kalah
duluan. Terakhir info yang kami dapat, rekor kutukan kekalahan selama trofeo intenal
ini ada masih di pegang oleh Yudi -nomor 2 nya Deni, untung dia tidak ikut malam
ini-. Jadi siapapun yang 1 tim dengannya, harus kuat menelan pil pahit
kekalahan, kalian tim Torres tidak salah, yang salah hanya Yudi.
21.00 WIB
Call Back
Masuk babak Call Back, artinya
mengadu ulang tim-tim yang sudah kalah untuk merebut 1 tiket sisa ke semifinal dengan
sistem liga/point. Match pertama
tim Torres vs Depay, adu jotos,
senggol-menyenggol, tendang-menendang, masih belum menemukan titik terang. Yudi
(beban tim) beberapa kali blunder
yang mengancam gawangnya sendiri. Menjelang usai akhirnya Arvan membuktikan ex Best Playernya, membawa 3 point untuk Depay dengan 1 gol pamungkasnya malam ini. 0-1 untuk
kemenangan Depay. Laga ke-2 tak kalah seru, Torres vs Gavi.
Dua kali kekalahan membuat Torres semakin liar, laga terakhir ini
benar-benar menjadi ajang pembalasan dari hasil sebelumnya, namun tak semudah mencadangankan Yudi. Gavi yang
diperkuat kuc Eko berhasil menyusun strategi yang membuat Fadil
melakukan gol bunuh diri. 0-1 untuk kekalahan tim Torres, dan mengharuskan
mereka angkat kaki duluan di turnamen ini. Seperti partai final, match ke-3
menjadi laga hidup mati untuk Depay dan Gavi, bermain
sangat hati-hati dengan sama-sama mengantongi 3 point, Tanaka cs beberapa kali coba mencari celah untuk mengelabui
pertahanan kuat Alan-Reza, namun sayang
disaat bersamaan Dayat dan Syahrul berhasil merobek jala Alex, 0-2 untuk
kemenangan Gavi sampai akhir laga. Selamat Gavi!
21.30 WIB
Semifinal
Selain mendapatkan 1 botol pocari tiap pemain, semifinal juga
menjadi pertandingan pembuka untuk perhitungan dan penilaian
pengahargaan individu seperti Top Skor, Best GK, dan Best Player. King Bagus diam-diam melirik lebih dalam ke
piagam individu yg terletak di meja panitia. Topskor jadi targetnya sekaligus
memutus rantai dominasi Vitno Adrian selama event TFI bergulir. Bukan
tanpa alasan, King Bagus juga penyerang berpengalaman yang pernah bahu-membahu
dengan Vitno meraih juara di TFI1, jadi tolong jangan pandang “Messi 02” ini sebelah mata. Fyi, “Messi 01” masih dipegang Ryan Messi. “Musuh tidak hanya
datang dari luar, tapi juga dari dalam”, quote yang pas mengambarkan tim Pedri saat ini. Lord Hafiz mencium
target King Bagus dan merasa tersaingi, sebagai crew acara, lord Hafiz
menyabotase aturan di tim mereka, yang membuat King Bagus kurang mendapat jam
bermain sehingga kesusahan dalam mencetak gol. Ini juga yang menjadi
alasan mengapa Lord Hafiz menjadi Topksor di TFI3. Licik.
Match pertama semifinal antara
tim Pedri melawan Mingueza. Dikarena sudah
terlanjur pewe istirahat, Ucil
cs nampak kesulitan memulai pertandingan.
Sempat memimpin duluan oleh gol semata wayang Dedi sebelum lord
Hafiz menyamakan kedudukan dengan gol keberuntungannya, mendorong
bola rebound ke gawang yang kosong hasil syuting keras Rice.
Skor 1-1 bertahan sampai
akhir laga dan dilanjutkan dengan adu penalty. Rice, Lord Hafiz, dan Gurning menjadi penendang Pedri, ketiganya membuahkan gol. Dedi
dan Ucil mewakili Mingueza juga mengukir hasil yang sama, namun Na’as untuk
Surya (Mingueza), tendangannya berhasil di tepis Ryan GK sekaligus mengantarkan tim Pedri ke Final
TFI3 dengan Skor penalty 2-3.
Tak kalah seru, semifinal lain Garcia vs Gavi. Bermain dengan tenaga penuh membuat Dhewa dkk lebih mendominasi permainan. Tapi meskipun lelah tidak membuat Gavi menyerah begitu saja, masih terjadi tawar-menawar serangan. Vitno yang dikawal ketat Syahrul mampu membuat beberapa kali percobaan yang mengarah ke gawang. Andre, Dhinno, Dhewa, Taufik, dan Dedi Manullang saling bergantian coba mengancam, namun masih bisa diamankan Awem. Bos Vindo dengan sisa-sisa skill masa muda kelelahan minta digantikan dan membuka baju tertunduk pilu menuju luar lapangan. Entah masih berkat kuc Eko atau tidak, permainan rapi Gavi perlahan-lahan membuahkan hasil. Ditengah persitegangan Reza dan Dhinno, Dayat mampu melepaskan 1 tembakan keras yg memaksan Aul memungut bola dari jaringnya. 0-1 untuk kemenangan Gavi. Sampai akhir laga skor tak berubah, Gavi dengan jumawa menuju tangga juara.
20.50 WIB
Final
Sisa 10 menit lagi dari waktu sewa
lapangan, panitia saling berbisik menentukan keputusan baru terkait
kelangsungan acara. Masih ada 2 laga seharusnya, match hiburan mencari tempat ketiga dan partai final. Tetapi
sayang, jam sewa tidak bisa ditambah, lapangan sudah full booking semua. Hadiah harus dibagikan malam ini, tidak etis jika pindah ke lain hari. Hanya ada 1 cara,
memotong match hiburan tempat ke 3 dan langsung masuk ke partai puncak, Final. Ini juga berimbas ke penilaian topskor,
yakni pemain-pemain yang main di perebutan tempat ke-3
tidak bisa menambah pundi-pundi golnya. Hanya pemain Final yang punya
kesempatan itu. Calon topskor sementara ada 3 orang yakni Dedi (Mingueza), Lord Hafiz (Pedri), dan Dayat (Gavi) masing-masing mencetak 1 gol di semifinal. Karena
regulasi ini, Dedi dari tim Mingueza harus pamit duluan.
Partai final Pedri vs Gavi tidak
terdengar baru, di babak penyisihan mereka sudah saling hantam (silahkan skrol ke atas untuk rincinya) dengan
kemenangan tipis Pedri. Namun Gavi yg dulu bukanlah yang sekarang, hasil
tempaan babak call back membuat tim ini semakin matang, duel
Dayat-Syahrul, tenaga muda Reza-Alan, duo gaek Vindo-Eko, plus pengalaman
tinggi Awem berkolaborasi menjadi kesatuan tim yang utuh. Dengan semangat yang tinggi, kita seperti tak
melihat bahwa mereka sedang memainkan partai ke 5 kalinya malam ini. Di sisi
lain meskipun Pedri memiliki konflik internal Lord vs King demi galar individu, itu tak membuat keganasan Hiron-Ryan Messi surut. Mengandalkan Rice dan Gurning
mereka mampu meredam gempuran lawan. Plus Ryan GK yang tampil imprensif, beberapa kali melakukan
penyelamatan penting di garis gawang. Memang jam terbang bisa bicara, GK Timnas
IB ini tak bergeming sedikitpun ketika Syahrul
melepas tendangan jarak dekat, bisa di block tanpa harus terbang sana-sini, ya makhlum Ryan bukan
tipe GK yg bisa terbang, doi lebih kalem diam dibawah mistar, dan itu sudah
cukup membuat penyerang lawan gamang.
Skor kacamata bertahan sampai peluit akhir dibunyikan, dan berlanjut adu penalty. Nah, berhubung tidak ada yg bisa mencetak gol, panitia (sekali lagi diketuai Very dan Tara) memutuskan untuk menghitung hasil PK sebagai kategori topskor, yang kebetulan dua kandidat tadi ikut menendang, Lord hafiz dan Dayat. Syahrul maju sebagai penendang pertama, dengan tenang berhasil melesakkan bola ke gawang Pedri. Dibalas tunai oleh Gurning dengan sepakan ke pojok kanan gawang Gavi, skor 1-1. Dayat coba menipu namun bola berhasil ditangkap Ryan GK, gagal untuk Dayat. Lord Hafis dengan percaya diri menendang keras ke sisi kanan Awem, gol dan merubah skor menjadi 1-2. Penendang penentu dari Gavi diambil oleh Bos Vindo dengan alasan beliau tidak turun main pas final karena terlalu tegang melihat King Bagus menari. Dengan ancang-ancang penuh bos Vindo menendang bola ke sisi kanan, Ryan GK dengan sigap menepis bola yang membentur tiang dan keluar, auto semua squad Pedri meloncat kegirangan, mereka juara. Ini pertama kali bagi Ryan GK, Rian Messi, Lord Hafiz, Gurning, dan Rice keluar sebagai juara. Terkhusus bagi lord Hafiz, bullyan selama ini dipupuk baik-baik akan dipanen malam ini. Tak sampai di situ, karena kategori top skor ditentukan lewat gol adu penalty, maka top skor kali ini jatuh kepadanya. Jika dikalkulasikan lord berhasil membuat 1 gol waktu normal dan 2 di adu penalty, sebuah pencapaian tertinggi sejak merintis karir di Indobarca 3 tahun silam, hidup Lord!
King Bagus merasa kelu, top skor yg diincar lepas ke teman sendiri. Bagi king dan
bang Hiron ini juara ke 2 mereka setelah di TFI1 dan TFI2,
masing-masing berhasil juara di musim berbeda. Melihat perjuangan Ryan GK sebagai penyelamat tim di 2x adu penalty, maka tak salah juri menilai dia yang terbaik malam ini. Dan kategori Best Player jatuh kepada
kapten timnas IB Syahrul, perjuangan gigihnya membangkitkan
semangat tim Gavi, bermain 5x tak membuat mereka menyerah.
***
Pada dasarnya semua yang bermain malam ini cukup baik dan sportif, jika ada 42 predikat tentu akan dibagi sama rata, kecuali Yudi, dia always
beban tim, wkwk. Sayang belum ada sponsor masuk untuk itu, jadi mau tidak mau, suka tidak
suka, harus ada yang terpilih, terlepas yang terpilih kompeten atau tidak, yang
jelas di turnamen kali ini, mereka yang memegang piala telah layak di posisinya
masing-masing. Dan jika keputusan ini memang kontroversi, biarlah tetap
kontroversi, ini akan menjadi cerita lucu penghangat kopi di masa
depan. Dan untuk yang akan datang, akan kita ulang dengan cerita baru yang berbeda dan lebih bergairah, tak akan lama, mungkin bulan depan, hehe.
Sekali lagi
selamat untuk tim Pedri, kap Syahrul, Ryan GK, dan Lord Hafiz, ini harinya
kalian, nikmati baik-baik, sebelum nanti (TFI4) direbut oleh yang lain.
Mohon maaf atas segala kekurangan, Next
kita ulang dengan yang lebih besar dan membahagiakan. Sehat-sehat dan bahagia
semuanya. Sampai jumpa di TFI4!
Visca Barca! (bw)

Komentar
Posting Komentar